Wudlu dan Kesehatan

Secara kesehatan wudlu sangat bermanfaat. Kalau diperhatikan, anggota badan yang dibasuh ketika berwudlu adalah anggota-anggota badan yang sering terbuka. Anggota badan kita yang terbuka sangat rentan didatangi kuman, selain memang kulit kita dihuni oleh kuman-kuman yang normal keberadaannya, kuman-kuman yang bersifat simbiotik mutualisme (keberadaannya membantu kulit misalnya dalam sistem pertahannan tubuh) juga kuman-kuman simbiotik komensalisme (keberadaanya tidak menimbulkan kerugian/penyakit) Baca selebihnya »

Kekasih Sejati

Cobalah renungkan cerita berikut ini. Konon, Hatim
Al-Asham berguru pada Syaqiq Al-Balkhi. Kata Syaqiq, “Kamu
telah berguru padaku selama tiga puluh tahun. Apa yang
engkau peroleh dari situ?”
“Aku mendapat delapan faedah, dan itu cukup bagiku karena
aku berharap bakal meraih keselamatan darinya.”
“Apa saja itu?” tanya Syaqiq
Hatim lalu merinci kedelapan faedah tersebut. “Pertama,” Baca selebihnya »

‘honoris causa ‘Jilbab Musiman di Bulan Ramadhan

Dasawarsa ini, sungguh eksentrik geliat religius yang menjangkit bangsa kita setiap bulan Ramadan tiba, jilbab mendadak jadi trend tersendiri. Jilbab pun dicampakkan ketika gemuruh bedug hari raya Idul Fitri berlalu. Sehingga wajar diberlakukannya “honoris causa ‘Jilbab Musiman’ ”. Fenomena apakah itu ? Baca selebihnya »

Ibunda Perkasa dari Tanah Duka

Oleh Miftahul Jannah
5 Jun 06 08:11 WIB
Di antara puing-puing luka dan penderitaan para korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, ada banyak keperihan yang tersingkap, ada banyak duka yang terkuak, namun ada pula kekaguman yang tersibak. Kekaguman yang semakin menguatkan keyakinan pada diri saya, bahwa seorang ibu memanglah sosok yang amat mulia. Baca selebihnya »

Kisah Habib dan Penjual Kacang

-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang
terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.
Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.
“Salah seorang dari kalian keluarlah sejenak dari ruang ini, ” katanya, “Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok.Keluarkan sebagian dari
uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.” Baca selebihnya »

Mat Kacong-DOA KHUSUK

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Malam itu ada ramai-ramai di sebuah rumah di kota kecil itu. Pemilik rumah, Hasan, seorang insinyur muda mengadakan syukuran karena memenangkan lomba arsitektur tingkat nasional dalam merancang sebuah bangunan besar di ibukota. Teman-teman Hasan, baik dari dalam kota maupun dari luar kota berdatangan untuk turut bergembira atas keberuntungan insinyur yang berasal dari keluarga miskin itu.
Seorang ustadz memberikan sambutan pada pertemuan itu. Seperti biasa, ada ucapan terima kasih, maksud pertemuan itu, dan cerita singkat prestasi Hasan sebagai seorang arsitek. Di samping terkabulnya doa Hasan meraih sukses. Sambutan pun berakhir dengan permohonan maaf kalau terdapat kekurangan dalam perhelatan itu.
Ketika orang-orang sedang beramah-tamah sang ustadz menegur Mat Kacong yang ada di situ. Ia memang tahu bahwa Hasan akrab sekali dengan Mat Kacong yang lucu itu.
“Kapan kau tiba di sini Mat Kacong.”
“Tadi pagi Ustad. Ada yang kurang lengkap pada sambutan Ustad tadi.”
“Apa yang tak lengkap?”
“Sebenarnya keberhasilan itu tak perlu diterangkan karena doa Hasan yang makbul, saya sebagai sahabat dekat tak yakin doa Hasan itu makbul. Saya tahu, Hasan kalau berdoa jarang khusuk.”
Semua hadirin tertawa. Hasan terpingkal-pingkal mendengar canda sahabatnya itu.
“Saya lebih yakin,” ujar Mat Kacong lagi, “yang diterima Allah agar Hasan sukses itu, ialah doa ayah dan ibu Hasan.”
Mendengar itu bergetarlah hati Hasan. Pelan-pelan ia bangkit memeluk Mat Kacong, “Selama ini kau hanya banyak bercanda, tapi saat ini benar-benar mengingatkanku terhadap jasa ayah bundaku.” ujar Hasan sambil menyeka air matanya.

Kiyai Nawawi Bantani dan Muridnya

Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Sebagai seorang syaikh (guru besar) di Masjidil Haram Mekah, nama Kiyai Nawawi Banten memang sangat popular terutama karena pengajian yang diberikan serta kitabnya yang tersebar di seluruh Dunia Islam. Pada tahun 1870 ulama Jawi yang popularitasnya menjangkau ke seluruh dunia Islam itu mendapat undangan ke Universitas Al Azhar, untuk mempresentasikan pikirannya secara langsung.
Ketika menghadiri undangan itu Kiyai Nawawi tidak ingin mendapat sambutan yang berlebihan, yang disiasati dengan cara menyamar sebagai orang biasa yang berpakaian Jawa, sementara muridnya disuruh berpakaian syaikh. Memang si murid mendapatkan penghormatan luar biasa, layaknya seorang alim besar. Sementara Kiyai Nawawi hanya duduk di kursi belakang. Ketika acara dimulai murid yang berperan sebagai Kiyai itu berpidato singkat, karena alasan sakit ia minta diwakili oleh santrinya, yaitu Kiyai Nawawi. Baca selebihnya »

Kiai Turun Tahta

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Kalau selama ini dikenal ada istilah lengser keprabon [1], kemudian mandek pandita[2], maka masih juga dilanjutkan ke level lebih tinggi lagi, lengser kapanditaan mandeg rakyat[3]. Hal itu dilakoni oleh Kiai Qulyubi. Ia masih keluarga pesantren Tawangsari Sepanjang Surabaya, yang didirikan para santri Sunan Ampel. Kemudian ia merantau dan mendirikan pesantren di daerah rantau itu, sebelah barat Kota Jombang, kemudian menikah dengan gadis setempat yang sangat cantik, anak keluarga berada, sehingga banyak membantu pembangunan pesantren. Baca selebihnya »

Zawiyah di sebuah Masjid oleh Emha Ainun Nadjib

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.
Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren. Baca selebihnya »

Gus Jakfar oleh KH. Mustopa Bisri

Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri,” cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu, “Saya sendiri tidak paham apa maksudnya.”
“Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa,” kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, “Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu. Sebelum dilamar orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, ‘Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?!’. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya.” Baca selebihnya »