Israfil, bergegas naik ke langit tujuh, menemui Tuhan. Ia bersimpuh di balik tirai dan awan yang pekat. Buru-buru ia menggedor pintu langit ke tujuh, perlahan langit membelah menyingkapkan pintu buat Israfil. Di langit ke tujuh itu ada sesuatu yang aneh, tak ada sinar matahari yang senantiasa setia berputar pada gugusan hari, tak ada dingin yang menggigilkan tubuh, tak ada panas yang mengeringkan daun, tak ada juga kerlap warna yang cerah maupun yang redup, yang ada barangkali hanya sesuatu mirip mega merah yang semburat menghiasi putihnya langit tanpa ufuk.
Israfil terus bergegas berlari dengan laju dan kecepatan tak ada yang menandingi, meski kecepatan cahaya sekalipun, ia berlari dan berputar-putar mengelilingi langit ke tujuh untuk mencari Tuhan, dari arah paling utara, sampai menuju arah paling selatan, dari arah paling timur, sampai menuju arah paling barat, tapi yang ada hanya kekosongan. Ya, hanya kekosongan, dan dalam kekosongan itulah barangkali Tuhan memang bersemayam, bersemayam pada tempat yang paling sunyi, sunyi sekali.
Israfil sudah tak tahan lagi menyimpan sederat kekacauan pikirannya yang berjubal, sebuah pikiran yang tak bisa dilipat oleh waktu, maka segeralah ia ingin menghaturkan kekacauan itu kepada Tuhan. Dzat pemilik segala ruang dan waktu. Ia kecewa telah mencarinya hingga mencapai langit ke tujuh, karena di langit itu, ya di langit itu ternyata yang ada hanya kesunyian yang nyinyir. Maka, kali ini ia sudah merasa tak perlu lagi untuk menemui Tuhan, Tuhan toh tetap ada di mana saja, kapan saja.
Dalam kesunyian seperti itu, seperti ada isyarat yang ditangkap oleh Israfil. Ia tahu persis isyarat itu, isyarat dari Tuhan, Tuhan yang Maha Mendengar. Israfil kemudian bersujud dan bersimpuh kepadaNya. Mendengarkan firman yang suci.
“Ada apa wahai Israfil”
“Iya, ya Rahman, ya Rahim”
“Engkau nampak gugup, sekiranya ada berita yang penting”
“Iya ya Rahman, manusia sekarang, ummat Muhammad sudah mulai lupa dengan ayat-ayat dalam kitab suci-Mu”
“Bukankah berita demikian sudah tak asing?”
“Ya Rahman, tapi kali ini, kali ini sungguh keterlaluan”
“Keterlaluan bagaimana?”
“Ya Rahman, ayat-ayatmu itu sudah berganti dengan permainan manusia”
Tuhan mendengar berita dari Israfil, lalu tersenyum. Israfil masih dalam sujud dan simpuhnya, berdzikir atas namaNya, tak lama Tuhan menjawab: Engkau sih Israfil?, urusan manusia terlalu dipikirin. Bukankah sudah kukatakan padamu sejak pertama kali kuciptakan manusia di muka bumi, ia memang suka bersekutu dengan setan, karena telah bersekutu itu maka manusia suka bermain-main dengan kemewahan dunia, bermain dengan darah, bermain dengan nyawa, bermain dengan kekuasaan yang saling tikam, bermain dengan tertawa yang terkekeh-kekeh hingga lupa asal-usulnya yang hina. Karena itu, karena itu Israfil jangan kau pedulikan lagi urusan manusia yang semakin lupa fitrah itu, tugasmu, iya tugasmu pada suatu hari nanti, kalau memang sudah tak ada lagi yang mengingatku, kau tiup itu sangkakala, dengan begitu segala sesuatu yang diperbuat manusia di dunia telat tamat, dan tentu sudah tak kan kau lihat lagi manusia.
“Ya Rahman, tapi aku sudah tak sanggup melihat permainan manusia, yang akhir-akhir ini sunguh keterlaluan”
“Lalu apa yang kau mau?”
“Ya Rahman, aku sudah tak sabar untuk meniup sangkakala ini”
“Apa kau tak melihat di pojok sebuah rumah yang kumuh sana masih banyak orang yang mensucikan namaku, di lorong-lorong dan di kolong- kolong ada dzikir dan tahmid yang tak pernah berhenti”
“Tapi ini, Tuhan, lebih dari separuh bumi ribut dan bergegap gempita soal benda bulat yang bernama bola”
“Iya Aku lebih tahu itu, Aku sudah memperhitungkan”
“Maaf, ya Rahman, aku mohon agar Engkau memberi kebijakan padaku, untuk mempercepat tiupan ini”
Israfil, masih bersujud, dan sedikit pun tak berubah, ia terus berdzikir, bertasbih, bertahlil dan memuji-muji namaNya.
***
Tuhan mendengar keluh Israfil, yang ingin mempercepat tiupan sangkakalanya, namun bagaimanapun Tuhan tak pernah lupa janji pada manusia, bahwa sangkakala tak akan ditiup seenaknya oleh Israfil, bukankah pada malam yang pekat masih ada sebuah kamar redup dengan bibir dan jantung yang berdetak menyebut namaNya.Pada sebuah pagi yang buta, masih ada subuh yang tak hilang. Pada majlis yang lengang, masih ada perjamuan-perjamuan yang membahas ayat-ayatNya, meski terus tandas dan semakin susut, masih ada bau firman yang mengepul di pojok sebuah surau.Masih ada beranda yang menyimpan sejuk nama Nabinya Muhamad saw. Dan, suara-suara takbir dengan menggema, menyentuh langit dan menyelimuti matahari. Masih ada yang melafalkan huruf-huruf Al-Quran, merangkai dalam gelap, meski dengan suara yang latah.
“Hari ini mari kita saksikan ya Rahman”
“Aku lebih menyaksikan”
“Maaf ya Rahim, aku sekedar berkata pada diriku sendiri”
“Bagaimana? Coba katakan!”
“Di bumi, di bumi ada permainan baru, yang amat aneh”
“Ada apa di bumi, terangkan lagi, meski aku lebih mengetahui”
“Ada benda bulat yang bernama bola, berputar-putar di ujung kaki manusia dan saling berebut benda itu, dan sorak sorai manusia. Aduhai menggemparkan seluruh ujung dunia, melebihi perang Badar dan Uhud, bahkan perang Salib sekalipun. Apa arti semua ini, kalau bukan perseketuan dengan setan?”
“Adakah yang mengingat-Ku saat itu?”
“Ya Rahman, Engkau lebih mengetahui dari aku”
“Tapi bagaimana pendapatmu?”
“Ya Rahman, para profesor, dan para ilmuwan sudah banyak yang menjadi ahli tafsir benda bulat itu”
“Lalu kitab, yang sudah kuturunkan bagaimana?”
“Ya Rahman, maaf ayat-ayatMu hanya sedikit sekali yang dimengerti, orang-orang pintar sudah terjebak dengan permainan benda bulat itu”
“Berarti bola itu sudah mengalahkan pesan-pesanKu”
“Ya Rahman, barangkali seperti itu”
“Panggil Muhammad, wahai Israfil, dan mintalah pendapatnya”
***
Muhammad, sebagai Rasul yang mengajarkan hikmah, dipanggil Israfil dengan tergesa, dalam persemayamannya, di surga yang paling sunyi.
“Ada apa wahai Malaikat Israfil?”
“Aku perlu membicarakan sesuatu kepadamu, wahai Rasul yang mulia, tentang ummatmu”
“Tentang ummatku?”
“Iya tentang ummatmu”
“Ada apa dengan ummatku”
“Sungguh mereka telah lalai, benar-benar lalai dengan pesanmu”
“Betul, sebagian mereka memang dzalim dan kafir”
“Bukan sebagian, tapi hampir semua, semua penghuni muka bumi ya Rasul, untuk itu izinkan, sekali lagi izinkan aku akan mempercepat tiupanku”
“Bagaimana bisa, usia bumi belum ada tanda-tanda selesai”
“Sudah banyak tanda-tandanya ya Rasul, angin topan, banjir, gempa bumi, tsunami itu, dan lain-lain, sebagai peringatan manusia!”
“Ya”
“Maaf wahai Rasul yang mulia, di bumi, ya di bumi ini ada permainan baru manusia. Permainan itu bernama bola, dan hampir semua penghuni bumi ribut soal benda bulat itu, kau tahu betapa bangganya ummatmu bila bisa memasukkan benda bulat itu ke gawang yang mereka bikin sendiri, mereka bangga dan sudah merasa menjadi syahid, dan kau lihat itu jutaan manusia menangis, berduka dan gembira, sombong dan merasa terhina karena benda bulat itu, bagaimana ini?”
“Barangkali sebab manusia diberi akal dan nafsu”
“Ah, tapi apa hubungannya benda bulat itu dengan akal? Bola, dan bola yang berputar putar di kaki pemain bola, bagai kaleng kosong yang ditendang kaki melambung ke langit dan jatuh lagi ke bumi, tiada arti sama sekali. Mengapa semua manusia saling berebut dan merebut bola, dan ketika salah seorang mendapatkan dan bisa menguasai sampai ke gawang lawan dia menjadi bangga seperti raja yang bisa menguasai prajurit. Kemudian disusul lagi dengan sorak sorai lautan manusia yang padat, dan dengan berita yang menggemparkan bagai berita perang. Permainan apa semua ini? Bukankah dengan mempercepat meniup sangkakala, ini lebih baik?”
“Sebelum memutuskan, wahai malaikat Tuhan, Israfil, sebelum segera engkau lipat bumi, bumi tempat berpijak manusia, sebelum engkau letuskan gunung, dan satukan laut, sebelum engkau belah langit, sebelum engkau kosongkan alam, sebelum kau runtuhkan matahari, dan bertabrakan dengan rembulan, menjadi debu yang berkeping, sebelum engkau persiapkan nafasmu untuk meniup sangkakala yang menggetarkan itu, beri kesempatan sejenak pada manusia untuk mencari hikmah di balik permainan baru itu”
“Ya Rasul, sudah beribu-ribu manusia, yang menghabiskan umurnya buat bermain dengan benda bulat itu, padahal ya Rasul hidup hanya dimiliki manusia sekali, iya sekali saja, bukankah ini sungguh keterlaluan”
“Iya betul, tapi izinkan manusia mencari hikmah di balik permainan itu, bukankah kehidupan manusia itu sendiri adalah permainan, Innamal hayatuna dunya ila la’ibul wal Lahw”
“Tapi manusia sekarang sungguh terlalu, ia selalu asik dan amat terlalu terlena dengan permainan, apa maksud semua ini?”
” Aku adalah manusia, dan aku sekaligus ahlu hikmah itu”
“Apa yang kau maksud?”
“Barangkali, ya barangkali saja, sebuah bola, permainan baru manusia itu adalah sebuah perumpamaan, iya sebuah perumpamaan bagi manusia, yang mengandung hikmah, bahwa bola bagaikan bumi yang berputar-putar, bumi yang berputar itu perlu dipegang, dan dalam memegangnya perlu strategi dan siasat, bukankah demikian kenyataan hidup manusia, jika manusia ingin menguasai bumi berarti harus lincah memainkan bumi, adakah seorang pemain akan menendang jauh melintang ke tengah lapangan atau mengoperkan ke temannya, atau membuang ke luar lapangan untuk menyelamatkan, atau menggiringnya sampai ke depan gawang lawannya dan akhirnya goollah yang ia maksudkan. Lantas penonton yang mendukung bersorak sorai mengagumi keberhasilannya. Sedang lawan dan pendukungnya akan menangis. Barangkali disitulah gambaran kehidupan nyata manusia, antara tangis dan tertawa hampir tak ada batas, sangat tipis, tipis sekali “
“Lalu?”
“Bukankah manusia lahir, karena bapak dan ibunya telah “bermain bola”, dan Tuhanlah satu-satunya yang memberi dukungan itu. Kalau tidak ada yang menang dan mendukung dari permainan itu mana mungkin ada manusia, dan, suatu saat kalau sudah sampai pada waktnya, saat Tuhan sudah tidak mendukung, berarti permainan bola dihentikan, kemudian seorang pemain bola akan tidur berbantalkan bola bulat dari tanah”
“Aku tak mengerti wahai Al-amin?, tapi, tapi dalam permainan itu bukankah setan telah bersekutu?”
Tak ada percakapan lagi. Langit sunyi dan lengang. Israfil kemudian sujud kepada Rasul, lalu ia pun beranjak pergi dan menutup pintu langit ke tujuh, juga menutup denyut ketidak sabarannya.
Lantas Rasul mengingat satu persatu kalimat Israfil, sebuah kalimat yang baru dan aneh, yang diberi nama bola, dan segera melintas pergi dari langit ke tujuh. Begitu pun Israfil, ia selalu mengenang keagungan aura Muhammad, kelembutan tutur katanya, dan air mukanya yang menyejukkan melebihi desir angin pasir yang menggerakkan daun-daun ilalang pegunungan di bumi. Kalimat-kalimat yang terucap dari bibirnya begitu menggetarkan, bibir yang menyimpan ilmu Rahman dari setitik air laut.
Kedatangan Rasul memang bisa mengharumkan langit dan menyisakan ketenangan pada ujung ruang di manapun. Tak ada lagi alasan untuk mempercepat sangkakala. Esok adalah padang halimun yang membuat fajar berbagi cerita pada langit dan bumi, dan siapa tahu hikmah bermain benda bulat itu akan segera mewujud pada jagat manusia, meski tak bisa dipercakapkan lebih panjang pada Israfil
DIarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Leave a Comment »










